Rabu, 24 Februari 2010

Ada Singkatan Dengan 2 Huruf Di Hari Itu.....

Satu lagi kewajiban aku udah selesai aku jalanin. Sarjana. Iya, akhirnya tanggal 18 Februari lalu dengan waktu sidang yang luar biasa -3 jam!-aku berhasil keluar ruangan dengan keringat bercucuran, tangan dingin, rambut sedikit awut-awutan, dan sebuah kertas berukuran sedang yang bertuliskan :
"LULUS   B"
Jreng jreng!!

Sejujurnya sih aku ngarepin nilai yang lebih baik dari itu (dooh, bilang aja pengen A!).
Secaraaa.. 6 sks, cing! Cukup signifikan kan utk ngedongkrak IPK..
Tapi apapun itu, aku udah berusaha keras.. udah berusaha fokus untuk saat itu.. dan apa yang aku dapat wajib aku syukuri. Wajib aku terima.
Semata-mata untuk orang tua aku.. Untuk Pelangiku..

Sebenernya sih aku orang yang berpikir realistis aja. Tapi kalo boleh jujur, aku ngerasa beda aja gitu waktu aku "ijin" sama Pelangiku sebelum berangkat dari rumah.. Diem-diem ke kamarnya..ngambil satu bajunya.. Terus aku liatin lamaaaa banget.. Nggak bisa ngomong apa-apa sih, airmata aja.. Tapi aku tau lah, dia ngerti apa yang aku mau..
Gimana, ya.. Ada hal-hal yang kadang nggak bisa kita pikirin dan jelasin secara logis. Lebih ke emosi aja, gitu.. dan yang namanya emosi kan abstrak kan, cuy..butuh bukan kata-kata biasa untuk merangkai kalimat dan membuat orang paham akan perasaanmu.

Sampe akhirnya aku sampe dan ada temen-temenku sama junior-juniorku nungguin di sana -di ruang sidang- sambil bantu-bantuin aku nyusun konsumsi sampe nemenin ngobrol.
Lalu satu lagi, orang tuaku dateng. Gotcha! Keringat dingin makin bertumpah ruah.Bukan! Bukan aku nggak bolehin mereka dateng. Cuma... heloooow, makinlah itu beban menumpuk di pundakku. Yeah, nggak boleh mengecewakan to hasilnya?
Tiga jam sidang dengan berbagai karakter dosen penguji itu pun melepasku. Oke, satu yang harus aku akui. Aku rada sensitif. Emosiku gampang tersentuh (preeet!!).
Selama di dalam ruang bedah itu, aseli, nge-blank akunya. Pemahaman aku sama akuntansi emang nggak sehebat temen-temenku yang lain (jangan tanya kenapa karena pada akhirnya kalo diceritain bakal jadi novel!). Pas keluar ruangan sebentar karena dosen lagi ngeerundingin keputusan, aku.... tes..tes..tes..bukan mo karoke.. Tapi nangis.. T_T.. aaaaah, dodol!! Ketakutan setengah mati akuuu..sampe nggak lulus.. waw, gimana perasaan Bapakku, Mamahku?? Ck ck ck...
Iya.. Apa daya, suka nggak suka harus aku jalanin to?
Toh aku bisa buktiin aku lulus juga.. dengan nilai yang setidaknya bisa buat orang tua bangga.

Hari itu, akhirnya, tanggal 18 Februari jam 14.25, aku resmi menjadiiii...............






"PENGANGGURAN"
    (Tet terereeeeeeet....)

Senin, 08 Februari 2010

Link-link

http://warungkomik.blogspot.com/2010/02/komik-detective-conan-bahasa-indonesia.html =>ini lagi aku baca..

http://www.mangakita.com/search?q=detektif+conan (lagi2 ttg conan..haha..)

http://bacamanga.web.id/Detective_Conan/591/3 (yeaaah, hidup conan!! hha )

Yuk, biasain membaca. (komik ato novel, asal judulnya : BACA) :D

Kamis, 28 Januari 2010

Pagi Dingin Sekali

Paginya dingin sekali..
Buka laptop..
Online..
Euh, mata rada berat ini sebenernya..
Jam berapa ya tidur tadi malem??
Jam 1 ada kali ya..
Kebangun pas ada sms masuk..jam setengah 3an..
Ga bisa tidur lagi..
Nggolek-nggolek kayak wayang golek aja sampe setengah enam-an..


Pikirannya lagi penuh..
Bangun dari tempat tidur kayak ditimpuk batako..
Ya ya ya..saya ini tipe pemikir.
Selalu memikirkan apa yang jadi ganjelan.


Ah, cuci muka gosok gigi, buat omelet..
Dimakan..Enek..
Tumben nggak abis..
Maksa-maksain abis..mau muntah pula!


Euh. Nikmati saja perasaan ini.
Dingin. Menusuk.
Mencekam.
Perang dengan diri sendiri sungguh bukan hal yang mengenakkan.
Saya mengunci mulut pagi ini.
Tidak bertegur sapa dengan siapapun.
Lalu saya mengunci diri di kamar.
Bercinta dengan tulisan saya, media yang paling membuat saya nyaman untuk menjerit, tertawa, dan bicara.

Jam 7.36..
Mau mandi..
Belum, saya belum mencapai klimaks dengan tulisan saya.
Saya masih betah.
Saya tidak mau diganggu oleh apapun dan siapapun.

Selasa, 26 Januari 2010

Apa??? Skripsi??? Oh..Oke....

Euh! efek not delicious body tadi malem masih berasa.
Udah keringetan si..
Tapi beratnya bangun dari tempat tidur itu lho..
*yeah, it is called "malas", right??

Lalu mata ini mengarah pada kalender DJARUM di depan mata.
Hu ye, tanggal 26!
Hmmm.....i feel that my days run faster than usual..
Iya, iya, oke,ini semua gara-gara lembar-lembar penentu gelar.
Beberapa hari ini aku nginjek pedal gas dalem2 untuk ngerjain barang itu.
Tanpa menginjak kopling atau mengoper persneling.
ASELI.

I think im too hard on my self untuk yang satu ini.
Agak maksain diri gitu. Begitulah kira-kira. Karena sebenarnya aku adalah tipe orang yang menyusun hidupnya dengan segudang tahapan rencana yang terorganisir. Aku bukan si spontan. Ya.
Termasuk pemenuhan target untuk segera memakai toga dan rencana-rencana yang menyusul dibelakangnya. Otomatis, satu rencana nggak terpenuhi atau mundur, rencana lain ikut-ikutan kegusur.

Kadang capek sih.. Bosan.. dan yang paling sering itu.. malas, karena -jujur aja nih- ada hal-hal lain yang lebih menarik daripada mengerjakan skripsi.
But that's not an excuse lah untuk berleha-leha atau ongkang-ongkang kaki kayak di warung kopi.

Besok rabu si Oktavianus, temenku yang menyerupai Syaiful Jamil si Mantan Suami Dewi Persik, dan 6 temen cewek lainnya bakal sidang. Hahahahahaha...
Hu ye!! Duluan aku yang seminar padahal. Secara materi si skripsi aku nggak seberat mereka.Mungkin sebenernya aku bisa aja ngegondol "Sarjana Ekonomi" bulan ini juga.
Tapiiii..talk is easy, guysssss.... real life-nya.............. heuh!
Sering kok aku maksain ngerjain benda terhormat itu di kala bete, di kala sedih dan lelah. Ceritanya mau ngebuktiin, pikiran aku bisa tetep fokus sama hal penting.
Hoo..lagi-lagilah aku harus mengakui kata-kata Miss Nelly Lorensia Samosir, dosen pembimbingku : "kalo ngerjain skripsi itu mesti tenang, cuinta...nggak boleh stress-stressan..nggak bakal jalan ituuuu..."
Iya..percuma. Nothing. Nihil. Tiada hasil. Karena toh baris-baris skripsiku nggak bertambah jumlahnya (itu beberapa waktu lalu! Sekarang, untungnya, sudah hampir menggapai garis finish. Setidaknya beberapa meter lagi.. :D).

Lebih dari itu, sebenarnya aku ngebet nyelesaiin skripsi ini karena nggak lain dan nggak bukan........ untuk Pelangiku.. dia nggak sempat liat mbaknya pake toga.. Itu pukulan banget buat aku..banget!! Karna sebenernya yang aku harapin aku foto wisuda dengan orangtua dan Pelangiku..-juga pacar :) -
Bisa dibilang, dia semangat terbesar aku untuk ngelaluin semua-semua ini..Pelangi kebanggaanku.

Well..apapun itu..ini adalah sebuah kewajiban..ini sebuah keharusan..

and I'm keeping my promise..yeah, untuk Pelangiku.....

Yeaaah..hapus semua nuansa melankolis..
Hu yeee..semangat, semangat!!
Apalagi dengan adanya tim penyemangat -lebay, penyemangatnya cuma satu-.
Once again, he (penyemangat itu) is on the second top of my list today.. -after ma family-,
Thanks God!
Aku mulai bisa ngeliat gerbang penuh sinar di depanku.
*Ini bernama OPTIMIS!

Jumat, 08 Januari 2010

Kali Ini Benar-benar Untuk Kamu


Maafkan saya..
Bantu saya memperbaiki semua..
Saya bukan si sempurna, sesempurna Dewi Shinta.
Jadi saya tidak berharap didampingi dia yang sesempurna Rama.


Saya hanya ingin lakukan yang terbaik. Itu saja.
Terbaik dari segala perspektif.
Untuk semua...
Tidak hanya diri sendiri.. Tidak hanya keluarga.. Tidak hanya kamu..Tapi untuk semua... Semua yang melintas dalam hidup saya..
Tapi tidak mudah ternyata ya..
Kaki saya beberapa kali tersandung..dan lutut saya beberapa kali berdarah karena jatuh..
Saya istirahat sebentar saja. Setelah luka itu sembuh, saya lanjutkan perjalanan saya..


Saya butuh benang sulam untuk merajut cerita terbaik dalam hidup saya.
Maukah kamu memberi saya sedikit saja benang untuk kita sulam bersama?

Sabtu, 26 Desember 2009

Kabar Untuk Tuhan Lewat Pelangiku

Terlalu kuat semua pesona untuk kumentahkan lagi..
Dewa amor sedang menang dalam perjudian kali ini..

Pelangiku, mbak lagi seneng, sayang..
Pelangiku bisa liat kan dari atas sana??
:)
Kamu suka nggak sama dia, Pelangiku?
Pelangiku, kalo dia yg terbaik buat mbak, gimana, sayang??
Mbak takuuut banget menyakiti dan disakiti lagi..
Pelangiku..ada tembok di tengah mbak sama dia, sayang...
Kamu mau bantu mbak?
Tuntun mbak ke arah yg sebenarnya ya...
Bilangin Tuhan, Pelangiku, mbak jatuh cinta.. :)

Jumat, 25 Desember 2009

Dia Bilang Ingin Mati Disini Saja. (Cerpen 1)

Aku memainkan ujung rambutnya yang tergerai ikal. Ia sendiri asyik dengan rumput yang dengan bodohnya ia gigit-gigit. Iseng, kutarik rumput yang bersemayam di bibirnya yang mungil itu. Cepat kilat ia menarik kaosku, dan dengan geram mencubitiku.
"Blogok!!" makinya.
"Blodoh! Rumput digigit!" Aku menyahut sambil melindungi diri dari serangannya yang membabi buta.
"Bikin kaget, Blogok!"
Ia diam. Aku diam. Kami diam.
"Kok diem, Gok?" ia menjawilku manja.
"Kamu kan mau mati, Blodoh.."
Ia menoleh pelan demi mendengar kata-kataku barusan, lalu tersenyum manis. Senyum yang selalu manis sama seperti setahun lalu, lima tahun lalu, lima belas tahun lalu. Sesaat tepian danau ini terasa begitu kering.
"Kenapa? Mati ya mati aja. Jalannya." jawabnya santai sambil memelintir rumput yang tadi ia gigit.
"Nggak sedih, Gok?"
Ia menggeleng pelan. Tapi aku yakin pikirannya kemana-mana.
"Kamu mau mati di mana?" aku bertanya, namun menatap kosong hamparan rumput-rumput tak teratur di sekitar kami, yang tumbuh di tepian danau ini. Tempat favorit kami sejak masih putih biru.
"Disini."
Seketika tawaku pecah mendengar jawaban singkat si Blodoh. Ia tetap bodoh sejak lima belas tahun lalu, sejak mengajakku berkenalan lewat tembok pemisah rumah kami, hanya untuk bertanya kenapa penghapus mickey mousenya tidak bisa menghilangkan coretan pulpen berupa benang kusut yang ia toreh di buku kakaknya. Karena aku juga gagal membantunya, tak lama terdengar suara menggelegar kakaknya, disusul jerit tangisnya.

Dan sekarang dengan mimik bodoh juga, ia memperhatikanku dengan kernyitan yang menyatukan kedua alis yang bagai semut berbaris itu.
"Jangan ketawa, Blogok!"
Tawaku kini hanya tersisa kuluman senyum yang kutahan agar tak muncul ke permukaan.
"Kalo kamu mati disini, Blodoh, aku tinggal buang mayatmu di danau depan itu."
Sekarang gantian ia yang tertawa lepas. Sangat lepas.
"Kamu ingat, Blogok, penghapus mickey mouse?" kembali ia bertanya. Kali ini ia dengan serius menatap kilauan cahaya yang terpantul lewat permukaan air danau. Hari mulai sore.
"Hahahaha...abis kamu dimarah kak Sinta, kamu langsung buang itu penghapus ke teras rumah aku."
"Lalu aku sore-sore datang ke rumah kamu, nagih penghapus itu lagi.."
"Tapi udah dibuang.."
"Hahaha..lagi-lagi aku nangis."
"Itu sore pertama dan kali pertama aku meluk kamu, Blodoh.."
Ia diam lagi. Tidak menyambung omonganku lagi. Tidak tersenyum lagi. Aku pelan-pelan tersakiti dengan suasana ini.
"Blodoh, aku bohong sama kamu selama lima belas tahun. Lihat ini..."
Perlahan kutarik sesuatu yang telah lama menggantungi leherku namun tak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Ia tercengang. Mulutnya ternganga. Takjub adalah kata yang paling tepat.
Ia memandangku tanpa berkedip. Agak ragu ia mengulurkan tangannya untuk meraih sesuatu yang kutunjukkan padanya.
"Blogok... kamu... "
Lalu kulihat sesuatu yang tidak kusuka : melihat mata memerah lalu airmata bergulir.
"Aduh, jangan nangis kenapa sih!" keluhku.
Tapi ia mendadak tuli. Tanpa ijin, ia melepas kalung itu dari leherku.
Bukan kalung.
Penghapus mickey mouse tipis, kehitaman, dan sompel di beberapa bagian pertanda sering digunakan. Ujung bagian atasnya kutusuk paksa dengan pisau kecil untuk kujadikan mata kalung, rantai kalungnya hanya benang jahit berwarna putih yang kusimpul mati ujungnya.
"Aku benar-benar ingin mati disini, Rey.."
Ini adalah ketiga kalinya ia memanggilku dengan nama asliku. Pertama, saat ia mencari penghapus kesayangannya itu, kedua, saat ia marah besar padaku 5 tahun lalu, saat pertama kali menduduki bangku SMA, dan ini yang ketiga.

Ia kembali memasangkan kalung itu dileherku. Namun, setelah itu tangannya tak bergerak dari bahuku.
Aku tak tahu siapa yang memulai, bibirku begitu saja telah memagut lembut bibirnya. Ia membalas tanpa tenaga. Aku sadar, ia rapuh, tapi tak menangis lagi.
Satu menit... Dua menit..
Ia tak membalas ciumanku lagi.
Aku regangkan ia dari dekapanku. Aku tahu, ia pergi.
Tanpa kata dan tanpa ungkapan. Tapi itu tak perlu. Aku tak peduli, Aku kembali mendekapnya dan menciumnya, kini dengan dua tetes airmata. Cukup dua untukmu, Rafika Namanta...



Disinilah aku sekarang, menyuntikkan semangat hidup pada mereka, para ODHA, lewat cerita tentang seorang penderita AIDS dan penghapus mickey mousenya.