Minggu, 24 Oktober 2010

Percakapan dengan Langit, Intermezo Sebelum Terlelap

Bali dingin malam ini. Saya menggigil.

Apakah tidak sebaiknya kita kembalikan semuanya seperti semula, Langit? Saya kadang lelah.
Kamu tau lelah kenapa? Kelak akan saya beri tahu, Langit...


Sabtu, 23 Oktober 2010

Only Time

Who can say where the road goes
Where the day flows
Only time... 


And who can say if your love grows
As your heart chose
Only time...

Who can say why your heart sighs
As your love flies
Only time...

And who can say why your heart cries
When your love lies
Only time...

Who can say when the roads meet
That they might be
In your heart...

And who can say when the day sleeps
If the night keeps all your heart
...night keeps all your heart...


Pict by me

"Hanya masalah waktu. Tenanglah......"





Jumat, 22 Oktober 2010

Suara Kepada Langit : Bukan Puisi

Di suatu malam, saya pernah berkata padamu, kita punya tujuan, Langit..

Tujuan yang saat itu kamu utarakan kepada saya untuk dicapai bersama-sama.

Sederhana : Jaga saya. Karena setegar apapun bongkahan hati di dalam sana, saya tetap akan berpulang padamu.

Genggam tangan saya. Karena sekuat apapun kaki saya melangkah, saya tetap akan butuh helaanmu saat jatuh dan tersungkur.
"Yakinkan saya, Langit, bahwa kita pantas berjalan beriring.."

Kamis, 21 Oktober 2010

Judulnya Adalah Judul

Ini Kamis.
Semua juga tau.
Lalu kenapa? Saya hanya merasa malam ini saya harus menulis di luar kenyataan saya sudah lama mengosongkan blog saya.
Jujur saja, saya menulis hari ini, malam ini, karena membaca sebuah blog dari............. hm, oke, pria yang saya kagumi.

Saya bukan latah karena membaca blog lalu menulis.
Saya hanya merasa butuh tempat untuk menjawab semua yang saya rasa dan saya alami disini. Di ruang tak terbatas dan bebas untuk diperlakukan seperti apa.
Saya sadar ini media publik. Tapi persetan lah, kenikmatan menulis dan orgasme bersama kata-kata adalah yang terpenting buat saya. See?

Jadi, saya telah berani berkeputusan.
Berkeputusan kali ini adalah keputusan yang saya pikirkan dengan matang dengan menghadirkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Saya telah memilih. Memilih apa yang harus saya dan kami tempuh. Menyakiti dan tersakiti. Membahagiakan dan dibahagiakan.
Saya terjepit pada 4 keadaan itu, percayalah.
Saya adalah si melankolis dalam bertindak, berpikir, dan berkata-kata. Kadang perasaan membutakan logika saya, sampai saya bertemu dengan orang yang membuat saya bisa menyeimbangkan antara perasaan dan logika (walau kadang ada perasaan masih mendominasi saya).
Setiap dari kita punya masa lalu, entah yang ia ingin kenang dan ia ingin lupakan. Tapi pada intinya adalah masa lalu itu akan mengikuti kemana kita melangkah. Kemanapun. Kecuali kamu amnesia, kamu tidak akan bisa lupa dengan label masa lalumu.

Saya menyayanginya, langsung saja tanpa embel-embel. Saya mengaguminya. Cukup. Bila lebih dari itu, namanya gombal.
Saya dan dia menyulam cerita dengan cara yang unik dan cenderung tak disengaja.
Saya yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dia akan berpengaruh sedemikian besar dalam hidup saya sampai detik ini.
Cara dia mencintai saya, dengan kemarahan dan kemanjaannya, itu melengkapi sisi-sisi wanita saya sebagai mahluk yang ingin sesekali di atur dan dipercaya untuk memanjakan prianya.
Pernah merasakan dilema terbesar dalam hidup? Saya sering dan berkali-kali. Tapi tidak ada yang sampai membuat saya jatuh sakit seperti saat saya mencoba untuk realistis kepada hidup saya sendiri.
Sudah banyak pembahasan mengenai perbedaan. Dan saya tidak akan membahas itu, karena saya bukan pakarnya, sekalipun saya punya pandangan sendiri tentang hal yang satu itu.

Pada akhirnya saya menyerah dengan pertahanan saya. Bukan karena saya kalah. Tapi menyakitinya dalam keombang-ambingan adalah sebuah situasi yang buruk. Saya melangkah dengan restu. Dan "menyakiti" juga dengan restu.
Meyakinkan diri sendiri adalah hal tersulit dalam berkeputusan. Apakah suatu saat keputusan itu malah akan balik menjegal kaki saya lalu membuat saya jatuh berguling-guling? Tapi inilah hidup. Bahkan dalam keadaan termulus sekalipun, maut tetap mengintai.

Saya menyakiti 2 orang sekaligus. Dia dan diri saya sendiri. Kehadiran sosok baru belum bisa menyembuhkan saya 100 %. Apa yang dapat membuatmu tersenyum, teman? Saya menjawab, semua bermuara pada kebahagiaan orang-orang terdekat dalam hidup saya.
Mereka tidak memaksa, mengingat saya sudah pernah mengalami hal buruk dan mereka berpikir berkali-kali untuk melakukan tindakan itu lagi kepada saya.
Mereka tidak memaksa. Tidak sama sekali.
Saya dengan sadar memilih untuk menjalani sebuah ruang kosong yang di kemudian hari akan saya isi dengan cerita.
Alasannya? Biar saya saja yang menyimpannya.

Mereka berbeda jauh. Bukan hak saya untuk membandingkan, tapi saya harus jujur bahwa perbandingan itu akan terjadi sekalipun dengan tidak sengaja.
Tapi saya menerima perbedaan 2 karakter itu, tentu saja dengan alasan klasik, semua orang tidak sama.
Ruang hati itu luas.
Lalu tidak dengan sembarangan saya dapat berkata "Hatiku untukmu."
Saya simpan semua cerita itu di dasar hati saya yang tidak akan bisa terjamah orang lain. Hanya saya yang bisa. Dan hanya saya yang tau bagaimana saya menjaga cerita-cerita yang tidak ingin saya hapus.

Saya memilih untuk melangkah menjauh dengan sulaman cerita baru. Saya harap muara kali ini bisa berlaku seperti apa yang dia pesankan kepada saya. Tidak muluk. Memperlakukan saya sebagaimana mestinya.

Terima kasih....
Kamu mengerti bagaimana memaafkan saya.
Kamu paham bagaimana harus menyatakan kekecewaan kepada saya tanpa menyakiti saya dengan kata-katamu.
Kamu mau melepas saya dengan segenap doa yang saya aminkan dalam hati saya.
Kamu bisa tetap berdiri tegak, setidaknya untuk meyakinkan saya bahwa kita tetap baik-baik saja.....
Terima kasih.............

Rabu, 21 Juli 2010

Hanya Sekilas dalam Selintas

Baru sempet nulis lagiiiii setelah sekian lamaaaa...
Hu ye!
Biasalah saya kan demen banget sok sibuk dan sok penting supaya tetap eksis. -.-"
Ah, jadi ceritanya itu saya dapet tugas dan agak-agak kelimpungan gitu deh akhir-akhir ini. Para dosen mantap sekalee membina mental mahasiswa.

Lagi nggak punya topik khusus untuk dibagi ato dibahas sih. Kerja sih fine-fine aja, walo beberapa hari yang lalu sempet dapat "kejutan" dikit dari direktur. Kuliah -yeah- begitu-begitu saja. Berusaha menjalani dengan senyum walau kenyataan yang paling riil adalah menjalani dengan tenaga yang tersisa di malam hari.
Betul kan? Saya hobi sok sibuk. Kehidupan pribadi juga sama. Indeksnya konstan, nggak fluktuatif kayak beberapa bulan lalu.

Ngaben juga udah kelar, udah ada tenang yang menyusup seiring iklas yang terus saya usahakan.
Tau nggak sih, sekarang ini bawaannya ngitung ari melulu. Haha..
Ngitung kapan kelar kuliah. Oke, jawabannya 8 bulan lagi. Waw, tergolong cukup panjang.
Sementara rencana-rencana berfondasikan mimpi sudah saya siapin sejak kapan hari.
Wooow. mantap? Ah, saya memang tipe si penyusun rencana.

Kalo masalah kerjaan, harus saya akui, saya masih kepikiran untuk nyari tempat yang lebih memberi saya kesempatan berkembang tanpa penekanan berarti, baik dari segi birokrasi ataupun dari interaksi individu.
Asik-asik, kok, anaknya. Dan, jujur, saya betah sekali ngalor ngidul atau tuker pikiran sama mereka. Tapi ada suasana yang kurang ngeklik aja untuk saya dan nggak perlu dijabarin disini, mempertimbangkan nama baik orang :) *berjiwa mulia sekali, ya, kesannya :D

Nah, masalahnya sekarang adalah belakangan saya sadar saya punya kemampuan yang buruk untuk mengimbangi antara ngerjain tugas, kerja, dan kehidupan sosial. Eh, terus terang, deh, dulunya saya nganggep remeh mereka yang kuliah sambil kerja, lho. Tapi sekarang, saya salut sama mereka, terutama yang punya manajemen waktu yang baik.
Asli, deh, jam tidur jadi berantakan bangeet.. Nggak ada deh cerita tidur jam 9 ato 10 malem. Menjelang besok pagi baru saya dapet kesempatan mengistirahatkan mata. Bukan mengistirahatkan ah, -menimbang jam 6 saya udah harus siap-siap kalo nggak telat- lebih tepatnya mem-pause.
Weeew...
Kehidupan sosial?? Berjalan normal sebenernya. Cuma gimana, ya, nggak ada kesempatan aja untuk hura-hura memanjakan diri kayak orang lain. Lingkup pergaulan saya sementara ini hanya berkisar di lingkungan kampus, kantor, dan sedikit orang-orang yang saya temui dengan tidak sengaja. Rencana saya untuk bisnis sama salah satu temen di Pontianak pun hancur berantakan karena keterbatasan waktu saya.
Dan kata ibu saya, rumah malah keliatan kayak tempat numpang tidur, mandi, sama makan aja. Malah saya lebih sering menikmati makanan di luar.

Apapun itu, pasti ada hikmahnya semua ini. Semua capek-capek saya sekarang, saya yakin ada harga balasan yang lebih mahal dari ini. Yang saya butuhkan sekarang hanya dukungan dari orang-orang terdekat. Yang saya perlukan kesabaran yang tidak berbatas untuk ngejaga supaya pikiran positif tetap hinggap di otak saya.
Hmm, boleh aja, kan, kalo berharap? :)

Rabu, 05 Mei 2010

Sedikit Cerita Sebelum Pergi

Waaah...setelah sekian lama nggak bercoret-coret ria di blog karna keterbatasan koneksi (begini nasib mereka yang menggantungkan kebutuhan online pada benda bernama modem), akhirnya hari ini situs blog saya bersahabat dengan jaringan yang kayak kurva, naik-turun.

Banyak hal yang terlewatkan untuk dirangkai didalam blog ini.
Ada sebulan lebih deh nggak nyentuh blog. Waaaaw....berasa ada yang gatel-gatel gitu ya sebulan nggak nulis.
Apa yang berubah?
Rambut saya mulai panjang, tubuh saya agak mengurus, dan yang paling drastis adalah tempat saya hidup juga berubah.
Hari ke-enam di bulan April kemarin adalah hari saya menjejakkan kaki di kampung halaman, Bali. Bukan hal yang mudah ngelangkahin kaki menuju bandara. Itu bukan sekedar ngelangkahin kaki kamu, lalu kamu tertidur di pesawat. Pikiran saya lalu dipenuhi oleh wajah-wajah yang saya tinggalkan..
Para sahabat... dan orang yang saya harapkan suatu hari bisa mendampingi saya.

Jadi malem itu (5 April 2010) terakhir kalinya aku barengan sama mereka. Rencananya sih cuma anak cewek aja yang nginep. Nggak taunya, karena keasikan maen truth or dare (seru abis gilak, semua aib kebuka tanpa saringan), akhirnya liat jam udah dini hari dan anak-anak cowok akhirnya batal pulang. Jadilah mereka bergelampangan di ruang tamu layaknya pengungsi.

Saya berusaha untuk tertawa karena memang saat itu keadaan mengharuskan tertawa. Tanpa mereka sadari, saya menghitung setiap jam yang sebentar lagi akan habis. Tanpa mereka sadari juga, saya menatap mereka satu-persatu dengan lekat, kadang sambil mengingat pengalaman terburuk dan termanis yang saya rasakan bersama mereka 3 taun belakangan.
Sampai ke sesi curhat-curhatan. Saya paling benci sesi ini karena saya tau saya tidak akan berhasil untuk tidak menangis. Saya kehabisan kata-kata. Semua rasanya mengaduk-aduk rongga dada. Sumpek. Antara melanjutkan kata-kata dan meneruskan air mata yang bergulir.
Semua kesan dan pesan saya dari mereka saya cermati baik-baik, sambil bersyukur dalam hati betapa Tuhan begitu baiknya memberi saya sejumlah pasukan untuk berjuang bersama, membagi tawa dan tangis bersama, menjadi anak baik dan nakal bersama-sama.

Ternyata menahan tangis itu sangat sakit, kawan....

Malam itu saya tidur dengan pikiran yang setengah masih di alam nyata.

Bandara lalu menjadi tempat melepaskan jabat tangan dan peluk erat. Lagi-lagi (saya aslinya cengeng, lho!) saya benci karena saya selalu gagal menahan air mata.
Pelukan-pelukan dan tepukan bahu yang membesarkan hati saya.Akhirnya genggaman dan pelukan itu harus terlepas.
Sebuah kado manis bersampul ungu dan pita ungu (adududuuuh..sampe sekarang nggak saya buang itu bungkusan sama pita..ungu siiiiih...ahhahahahaha..) dan ini isinya :

Di bis yang mengangkut penumpang ke pesawat henpon saya berdering. Satu lagi yang sangat berat saya tinggalkan. Yaitu kepada siapa saya menautkan hati.
Sejujurnya saya adalah si sok tegar. Pantang buat saya nunjukkin air mata di depan dia. Sampe terakhir ketemu saya masih bisa nahan untuk nggak nangis. Saya nggak mau dia liat air mata saya. Gitu juga saya, saya yakin pasti saya nggak akan liat air mata dia. Saya yakin kok kita bakal ketemu lagi.

Dan pesawat pagi itu menerbangkan saya..
Jauh..
Menjauhi mereka..
Menjauhi apa yang saya cinta..

Minggu, 21 Maret 2010

Bila Harga Tiket Pesawat Sama Dengan Semangkok Mi Ayam Joko

Nggak terasa ya udah di ujung Maret.
Kerjaan nambah lagi ni tiap hari : ngitungin hari, ngelirik kalender.
Bodoh? Iya, memang.

Nggak perlu menghibur dirilah ya menganggap kepergian itu sesuatu yang harus dinikmati.
Meninggalkan lingkungan kamu yang udah nemenin kamu selama 21,5 tahun.. Itu kalo manusia udah masuk golongan dewasa..
Ninggalin sahabat kamu... Orang yang kamu sayang..
Satu-satunya yang bisa dinikmati ya kebersamaan sama mereka. Tapi dibalik kegiatan nikmat menikmati itu, ada satu rasa yang nyelip di rongga dada kamu. Hampa.
Susah juga ya mau jelasinnya. Abstrak! Nggak muda dilukiskan.

Pikiranku kadang menjelajah. Disini aku punya orang-orang yang luar biasa.. Para sahabat dan penghuni hati *_*
Menurut pengalaman siiih.... udah uzur begini (21 taun itu tua, lho! :p) rada susah dapet temen yang bener-bener deket. Deket dalam artian yang bisa denger dan liat kamu dalam keadaan waras maupun gila.
Kalo masalah penghuni hati nggak usah dibahas lah yaa..nyebrang samudra sekalipun kalo udah dia yang bercokol ya dia aja adanya.. hihihi..

Dan satu kebiasaan lagi sekarang : kemana-mana bawa kamera..Aku jadi ngerasa semua momen adalah penting! Sekalipun momen nggak penting yang juga dilewatin dengan orang-orang nggak penting :p . Jadilah kamera itu menjadi pengikut saya yang PALING setia. Pagi siang malam subuh. *Lebay!

Yeah, saat kamu sadar ada sesuatu yang bakal menjauh dari jangkauan kamu, kamu ngerasa semuanya adalah salah untuk dilewatkan begitu saja. Gitu juga aku..
Gampang aja buat kamu ngomong "Maen lah ke Bali..."
tapi harus diakui itu juga terkesan basa basi..
Soalnya pada kenyataannya, maen ke Bali nggak cuma nguras sepuluh duapuluh ribu dari dompetmu (kecuali ada kebijakan baru : harga tiket pesawat bisa sebanding dengan semangkok mi rebus ayam jamurnya si Joko -Joko itu penjualnya). 10 kali lipat mungkin. Belum termasuk 'kewajiban' belanja di sana.
Jadi aku sebenernya cuma kayak ngarap aja bisa nemuin sahabat-sahabat aku atau penghuni hati aku itu terdampar di sana. Sekalipun gitu, yang namanya berharap sah-sah aja kan?
Jadi aku tetep melihara harapan itu ^_^, sekecil apapun...