Senin, 21 Februari 2011

Yang Punya Arti di Sisi Sebelah Sana

Setidaknya yang terbaik adalah menikmati hari ini dengan orang-orang yang menyayangimu dengan tulus. Sekalipun aku begitu, aku cukup tahu diri untuk tidak merusak semua yang sedang kamu jalani atas nama proses..

Maaf, yang punya arti di sisi sebelah sana memang tetap pada tempatnya, tidak berubah..
Tapi demi rangkaian hari-hari di depan, biar dia tetap di sebelah sana, tergeser oleh peran utama yang sedang melakon saat ini. Melakon dalam hidupku, dan yang akan melakon dalam hidupmu.
Karena aku sudah mempersiapkan yang punya arti di sisi sebelah sana suatu hari harus benar-benar tergeser untuk sebuah alasan dan realitas.

Jumat, 24 Desember 2010

Setelah Dua Minggu

Hari ini libur. Senang sekali saya. Setelah dua minggu memporsir tenaga. Sejauh ini saya masih menikmati apa yang saya jalani. Pertama, karena memang nggak mudah mencapai apa yang berhasil saya raih saat ini. Kedua, di belakang saya berdiri orang-orang hebat yang dengan tidak ragu membantu dan membagi ilmu plus pengalaman mereka.

Saya rasa memang ada saatnya dalam hidup, kita melepaskan hal-hal remeh temeh demi sebuah kepentingan, apalagi kalo kepentingan itu bersangkut paut untuk masa depan. Begitulah, teman.
Untuk apa yang saya jalani, saya juga harus mengorbankan kepentingan-kepentingan "kecil" saya. :)
Ini tantangan, pastinya.
Dukungan selalu ada. Keluarga saya, terutama. Kemudian perhatian dari "seseorang" dan keluarganya, semua membuat saya yakin kepada apa yang saya jalani.

Tunggulah masa depanku, kakiku siap menyambut hari-hari yang kau sodorkan :)
Semoga :)

Sabtu, 27 November 2010

Caraku, Cara Kita

Aku mencintaimu dengan kata-kata celaan. Aku menyayangimu dengan tawa mengejek. Aku menantimu dengan kalimat pengusir yang seratus delaan puluh derajat berbeda dari harapku. Aku mengkhawatirkanmu dengan kalimat ketidakpedulian yang mengharapkan jawaban dan cerita sepihak.
Dengan caraku, yang tidak sama. Dengan mauku, yang tidak seorangpun paham kecuali aku. Bahkan kamu.

Kamu menikmatinya, begitu juga aku. Aku buntu pada bahasa-bahasa manja. Mata kita sudah bicara, sehingga mulut kita tersaingi. Tapi tenang saja, ia tidak iri :)
Kita berbeda. Dengan mereka.. Dengan orang di sampingmu, dengan orang di sampingku.. Dengan hampir seluruh mereka. Tapi kita menikmatinya. Tepatnya, kamu membawaku untuk menikmatinya.

Kita berbeda. Kita menuju ke suatu tempat dengan mencoba jalur lain. Tanpa kompas, tentu saja. Tapi kita yakin, kita akan sampai, walaupun jaraknya semakin jauh, dan tidak biasa karena ketidaktahuan kita.
Karena kita memutuskan untuk berbeda.
Itu saja.

Selasa, 16 November 2010

Proses Itu.........................................

Saya mencoba melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terlintas di benak saya sebelumnya. Dengan modal nekat dan cuek sesantai geboynya.
Pikiran saya waktu itu, kalo ini bukan rejeki saya, nggak akan Tuhan ngasi kelancaran sama apa yang saya lakukan. Tapi bertolak dari itu semua, saya tidak menemukan kesulitan berarti saat menjalaninya. Bahkan perjalanan saya sudah mencapai 3/4 untuk dikatakan "penuh". Ya, tiga per empat. Itu berarti 1/4 untuk menuju final, dan entah mengapa yang tadinya cuek bebek, sekaarang bertransformasi menjadi semangat. Ini juga pastinya karena dukungan orang-orang terdekat saya, terutama orang tua.

Nah, dalam proses yang sedang saya jalani ini, saya mendapat banyak pengalaman baru, dan teman baru tentunya. Ini yang menarik bagi saya, mengingat saya orang yang suka bergaul dan bertemu orang baru. Keterikatan dengan mereka bisa saya katakan lumayan kuat di awal perkenalan yang baru berjalan kurang lebih dua minggu -bahkan belum dua minggu- menjadikan saya makin semangat menjalani proses ini, dan tentu saja MENIKMATINYA. :)
Semua butuh perjuangan. Semua butuh pengorbanan. Saya menyadari saya masih punya tanggung jawab yang harus dengan baik saya lakukan sampai bulan februari, tapi saya juga menyadari -dan sudah merasakan- kesempatan sangat susah datang bagi orang-orang lamban di sini. Kesempatan yang datang dengan cara yang cukup mudah ini akan sia-sia bila saya saklek pada pemikiran yang terlalu konservatif.

Jadi dengan segenap keyakinan saya, restu orang tua saya, dan tentu saja restu Pelangi kecil saya, saya memastikan diri untuk melangkah sebelum dinyatakan kalah.

Wish me luck, Guys :)


Rabu, 03 November 2010

Beranda Bercerita di Tengah Malam Buta (Cerpen II, tanpa judul-karena tidak perlu judul)

Kaki kita terus melangkah. Berjarak, lalu semakin jauh. Apa masih ada kata yang belum sempat kau sampaikan, Dewiku, sebelum kita benar-benar melangkah ke arah yang berlawanan.
Lalu desah nafas kita menjadi saksi. Jantungku seakan hendak melompat dari mulutku, dan memperlihatkan torehan namamu di permukaannya. Masih basah oleh darah.
Apa perlu lagi ragu itu, Dewiku?
Jangan, Dewi.
Setitik ragu yang kemudian terbit berarti memperuncing mata pisau yang menghunjam nadiku. Sakit.
Sudah, Dewiku? Mari kita lepaskan pagutan bibir kita. Urai perlahan jemari kita yang masih bertaut.
Sudah, ya.
Tidak ada alasan lagi sekarang. Ayo kita teruskan langkah kita, dengan punggung yang bertemu punggung. Pastikan jangan lagi kepalamu menoleh, Dewi. Karena yang kau akan temui hanya punggungku yang semakin menjauh.



** Denpasar, di beranda rumah kontrakan, dengan malam yang semakin menyayat minta dikasihani. Untuk sebuah masa lalu yang dibingkai rapi di sudut hati. Terimakasih Enya untuk backsound-nya selama menulis.

Rabu, 27 Oktober 2010

Baby.. Baby.. Come to Mama, Love!

Huuuuuuffffff...... <== ini maksudnya menghembuskan nafas.
Ehhhh jadi, tuh, ya, kemaren itu spesial bangeeet buat sayaaa..
Untuk yang kedua kalinya saya lihat dengan mata kepala sendiri bayi yang bener-bener merah, baru mbrojol.

Anak sepupu saya, sih. Anak kedua ini. Lahir dengan operasi.
Sampe saya dateng, bayinya masih di ruang bayi.
Saya cuma bisa ngeliat dari luar.
 

Adudududududuuuuuuhhhh.... ngerti nggak, sih, kalian.. Gregetan abiiiiisss, tauuu, liat jejeran bayi yang tidur tenang dengan pipi merah, matanya terpejam. Ngebayangin dia hidup di rahim ibunya, ikut makan makanan ibunya, beraktivitas seiring detak jantung ibunya. Great!! Saya terharuuuuu luar biasa.. ikut ngerasain senengnya para ibu yang ngelahirin hari itu (kemaren, tanggal 26 Oktober 2010).
Duh, semangat amat, sih, sayanya. Tapi beneran deeeeeeh....
Yaaa pada dasarnya sih saya emang pecinta anak kecil. Tapi beda aja rasanya ngeliat bayi yang bener-bener baru berapa jam ngirup udara dunia.
Hiiiihhh..cubit..cubiiiiiiiit.....

Ponakan saya di rumah udah dua deeeeeh.. Seneng..
Semoga secepatnya Tuhan memercayai saya untuk menjadi ........ Ibu :)

Senin, 25 Oktober 2010

Hi, I'm Your Bestfriend's Girlfriend

Semua berjalan seperti biasa, sampai bidadarimu memberi dinding tebal di tengah kita.....

Ya. Sampai dia menemukan bidadarinya.
Semua memang baik-baik saja. Kami berteman, lalu bersahabat, lalu berbagi cerita yang tidak seharusnya, lalu memilih jalan masing-masing karena tidak rela mengotori sebuah sulaman cantik yang durajut dengan sederhana, yang kami beri nama : PERSAHABATAN
Toh, kami mampu juga menjalani ikatan persahabatan yang benar-benar bersahabat.
"Mawar yang masih kusimpan, Sahabat....."
Kami membagi cinta dengan orang-orang yang kami cintai. Sesekali diselingi derai tawa di telepon seluler dan komen-komen bodoh di jejaring sosial.
Sampai pada akhirnya, intensitas itu berkurang dengan tidak wajar. Saya mencium aroma yang beda.
Berbagai cara saya lakukan untuk mencari tahu.
Dan jawabannya klasik.  Kecemburuan.
Cemburu pada sahabat pacarmu. Apa karena kami berbeda gender? Apa persahabatan antara pria dan wanita harus berujung tragis dengan titik-titik cemburu pacar-pacar kami?

Lalu saya temukan lagi kenyataan. Untuk yang kedua kalinya, Sahabat, bidadarimu memuaskan egonya dengan melenyapkan saya dari sisi kehidupan jejaring sosialnya.
Saya ingin marah. Tapi saya kemudian tertawa, karena bukan cara yang bijak.
Saya kehilangan. Sungguh.
Ini lebih buruk daripada dimusuhi mantan pacar.