Rabu, 22 Januari 2014

Pregnancy is Amazing

Tadaaaaaaaaaaa......

Dari kapan jaman pengen ngeblog, apa daya wifi di rumah ngadat. Iya, rajin bayar telpon dibalas dengan koneksi ngadat itu kan seperti susu dan tuba, hikss. Terpaksalah saya ngeblog dari papan penggilasan, eh talenan deng.

Weellllllllllll, malem ini rada betebete ah, heeeeee. Gara-garanya si doi pulang malem terus karena ada pelatihan di kantor. Nggak bete sih, cuma kan namanya cewek, kalo nggak betean, nggak komplit jadi cewek.

Tapi setidaknya sekarang saya punya temen, walopun belom nongol ke bumi, hehehe.
Astungkara memasuki minggu ke 13, udah jarang mual dan nafsu makan udah kayak jaman gadis. Sering khilaf.
Sayangnya adalah, sampe sekarang saya masih susah banget makan buah dan sayur. Sedih banget. Doyannya malah makanan-makanan yang nggak bergizi sejenis bakso dan mie ayam. Untungnya saya doyan minum susu hamil.

Oiya, kata orang saya makin cantik dan dibilang anak saya cewek. Tapi saya jadi males mandi dan bawaannya ngantuk pengen tidur terus. Makanpun cuma mau daging2an. Dibilanglah anak saya cowok. Hahahah.
Apapun itu, yang kamu sehat ya anak sayanngggg, muach.

Suami juga bawaannya jadi bawel, ngingetin saya terus dan terus untuk mandi pake air hangat, apalagi pinggang saya sering pegal dan nyut-nyutan. Juga soal makanan, itu terutama. Sayur buah sayur buah, cuma itu kosakatanya untuk saya.
Tapi tetep saya berterimakasih untuk perhatiannya yang nggak pernah putus.
Ada satu lagi, saya jadi super manja dan doyan ketek suami. Entahlah ini maunya si anak apa emaknya.

Dibalik semua itu, ini adalah hal kesekian yang terindah dalam hidup saya. Yang belum pernah saya rasakan, yang ternyata rasanya lebih bervariasi.
Saat kita merasakan apapun, ia juga merasa. Saat kita sedih, ini perut rasanya ikut kram.
Saat ayahnya bisik bisik di perut sambil menciumi perut saya, saya berpikir, sedahsyat ini romantisnya seorang ayah kepada anaknya yang bahkan belum pernah bertemu. Sayang yang tidak palsu.
Begini super duper menakjubkannya Tuhan beri kesempatan kepada perempuan untuk merasakan indahnya berkorban untuk nyawa lain di tubuhnya.

Mungkin nanti kalau anak saya sudah mengerti teknologi,mudah-mudahan blog ini masih ada, supaya dia tau, seperti apa cinta saya dan ayahnya kepadanya saat itu. Karena, tulisan adalah rekam abadi, bukan? :-)

Aaaaah jadi sedihhhhh, apalagi ini dvd mozart hadiah si doi lagi muterin instrumen twinkle twinkle. Uh uh uh, nggak boleh mewek, biar nggak cengeng katanya si dedek.

Selamat tidur ya, sayang. Bunda udah ngantuk, ayahmu tak buatin kamar di kantor aja kali, ya.
Muwaaaaaah :*


Sabtu, 14 Desember 2013

8 WEEKS

Sudah jam 10 malam disini tapi saya belum mengantuk sama sekali.
Saya beberapa kali mengelus perut saya menyapa dia yang sedang mendiami rahim.
Akhirnya bahagia yang saya tunggu menjadi nyata.
Petualangan pun dimulai. Yang dikatakan orang sebagai morning sickness akhirnya saya alami. Rasanya luar biasa, campur aduk. Tentu saja mempengaruhi nafsu makan saya yang turun drastis.

Segala upaya saya coba. Sayangnya makanan yang enak enak itu justru dilarang di masa kehamilan muda, hihihi. Good bye KFC, McD, sate ayam, lalapan dan segala yang bakar2 dan instan, apalagi indomi. Tapi jujur, saya kadang curi2 makan indomie. Saya beneran pengen, daripada bayi saya nanti ileran.

Tiap tengah malem juga sekarang saya kebangun untuk buang air kecil dan ini pinggang ikutan pegel linu. Tantangan :-)
Terpujilah para ibu yang pernah hamil. Hamil itu luar biasa menyenangkan dan kadang penuh tantangan terutama emosi.
Mood naik turun itu biasa, saya hanya sampein ke suami untuk pinter pinter jaga mood saya, karena sensitivitas ini semacam meningkat ke highest level. Suami saya berusaha melakukan itu. Iya, karena istri hamil yang ngambek itu lebih menyeramkan daripada monster.
Pernah saya ngambek gara-gara apa saya lupa, suami sampe saya cuekin 2 hari. Untung nggak sering-sering.

Tapi bahagia kok rasanya, menyadari ada dia yang hidup di dalam, ikut semuaaaaa apa yang kita makan dan lakukan, ikut semua mood yang kita rasakan. Amazing. :-)

Rabu, 09 Oktober 2013

One Day in Your Life

Waaaaaaaaaa, sebulan lebih lamanya tidak mengguncang blog. Maklum, tingkat kesibukan saya mencapai maksimal sebulan ke belakang ini.

Malem ini maunya ngereview acara yang berlangsung dari tanggal 9 September bulan lalu, sampai 5 Oktober kemarin ini, tapi bertahap kali ya, berhubung ini badan juga udah capek parah.

Soooooooo, finally a new day has come katanya Celine Dion dan menjadi One Day in Your Life kata si almarhum Jecko.
Pada tanggal 9 September resmilah saya menjadi seorang istri, seorang Nyonya Besar, hahahaha. Menjadi Nyonya I Komang Endiyatna.
Semua rangkaian acara yang berjalan lancar menambah buncah-buncah bahagia di hati saya. Akhirnya setelah melewati kisah yang lumayan panjang, saya dipertemukan dalam sebuah ikatan suci dengan yang tercinta.

Jadi prosesi pingitan sebenarnya sudah dimulai tanggal 7 September, H-dua acara nikah. Tapi, tetep aja saya mau nggak mau harus ketemuan sama Mas, hehehe. Iya saya nitip cairan pencuci softlense ke dia dan dianter ke rumah saya. Ketemu deeeeh, lumayan ngobatin rindu. Dan di tanggal 8 itu saya baru menyempatkan diri perawatan. Spa lengkap plus ratus. Ckckck.... Kebayang, ya, hari-hari saya sebelum nikah yang sibuk bak seorang Syahrini. Kesana kemari.Urus ini dan itu.

Sampailah di tanggal 9, subuh jam 4 saya sudah mandi karena si tukang rias bilang jam 5 sudah di rumah saya. Tunggu punya tunggu periasnya baru dateng jam setengah 6. Maka betelah saya. Dan saya ngerasa riasannya juga tekesan buru-buru. Blekliiiiiiiiiiiissssssssss!!!! Pokoknya blacklist!

Mas bbm saya sekitar jam 9 lewatan gitu, ngasi tau dia dan keluarga besar udah otewe ke rumah. Tapi perjalanan agak terhambat karena ada 5 kecelakaan sepanjang jalan. Memang, daerah asal Mas, Tabanan Bajera, jalannya itu lika liku dan banyak tikungan yang lumayan curam. Sering truk-truk pengangkut barang nyungsep disitu karena beban yang terlalu berat.
Perjalanan yang biasanya hanya ditempuh 30 menit jadi 1 jam lebih. Saya yang udah keberatan mahkota bla bla bla itu rada gelisah di bride room. Lama amiiiir booo. Kepala saya udah cena cenut duluan.

Mas dan keluarga sampai sekitar jam 11an, begitu dipanggil keluar kamar, saya rada malu-malu manja gitu sama Mas, apalagi ngeliat mukanya. Hahaha, LABIL!!
Prosesi adat dijalankan, kita berdua sembahyang sekaligus saya pamitan di pura kecil rumah. Nama adatnya mepamit, dimana si anak gadis mohon pamit karena akan hijrah ke keluarga suami dan tidak menjadi bagian adat di pura rumah itu lagi. Itu hanya simbolis sebenernya, kapanpun si cewek mau pulang ke rumahnya tetep nggak masalah kok. Oke, skip aja ya tentang adat, secara saya juga blasteran, nggak terlalu ngerti :D

Acara berjalan tanpa menyisakan deg-degan di hati saya,sampailah tiba saatnya sungkeman ke orang tua. Sebenernya di Bali nggak ada adat sungkeman, itu Papanya Mas yang minta. Secara keluarga Mas bertumbuh kembang di Jawa, jadilah kita sungkeman.
Nangis??? Jelas laaaaaaaah!!! Apalagi pas meluk Mama. Aaaaakkkk kok rasanya baru kemarin saya di unyel-unyel karena bandel dan sekarang harus bertanggung jawab atas seorang suami.

Kelar acara di rumah saya, ke Tabanan lah kita semua, ke rumah Mas, disana kita adat Mesakapan atau akad nikah gitu deh. Disana di lakukan beberapa prosesi, mungkin nanti akan saya jelaskan beserta fotonya ya. Biar afdol gitu. hehehehe.
Acara di sana juga berjalan lancar walaupun ditemani pusing dan nyut-nyutan super di kepala saya.
Selesai mesakapan, dinyatakan sah lah saya dan mas menjadi sepasang suami istri, dan kita juga dibekali wejangan oleh pemangku yang menikahkan kita.Untuk saling hidup rukun, menghargai satu sama lain, dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah kami buat bersama, dalam hal ini sebuah pernikahan.

Di hari yang sama saya melepas pelukan kedua orang tua saya dengan tangis tertahan. Malu euy nangis depan orang. Merasakan banget, kasih paling sempurna adalah dari orang tua. Saya seperti sekarang tidak lepas dari peran orang tua saya. Dan sampai mati pun saya tetap bawa nama baik orang tua kemanapun saya melangkah.

Ada hal lain lagi yang membuat saya terharu, saat mas berbisik ke saya, "Beneran kamu jadi bojoku, Hun?" sambil menatap saya dalam. Saya hanya bisa tersenyum sambil mengusap lembut anak rambutnya. Iya, aku jadi bojomu, Kampret...
Yang dulu kamu kampret-kampretin
Yang dulu kamu hina dina.....
Sekarang semoga dia bisa buat kamu bangga dan bahagia, Mpret...

I will tell you more about him.. someday, :) 


Minggu, 08 September 2013

Turn from Ms. to Mrs -- 12 Hours Before

"Gimana rasanya? Deg-degan?"

Kalo bilang nggak, ya saya bohong. Kurang dari dua belas jam lagi, tanggung jawab atas saya akan dialihkan dari Bapak ke lelaki yang meminta saya untuk jadi istrinya 3 bulan lalu. Masalah siap, saya sudah siap dari dulu untuk menghadapi ini. Yang bikin deg-degan serangkaian prosesi kali, ya.

Sudah dua hari ini warga desa asal saya terus bergiliran datang ke rumah untuk bantu-bantu nyiapin semua keperluan besok, terutama yang berkaitan sama sesajen dan hidangan. Gotong royong, ini budaya yang paling saya cintai dari pulau ini.
Saya juga nggak kalah sibuk nyamperin tamu-tamu yang datang ngasi selamat.

Dan tadi, saya bertemu mantan calon mama mertua, yang saya anggap seperti mama sendiri. Dulu. Sekarang? Tetap di hati saya, tapi tidak saya tunjukkan seperti dulu. Menjaga perasaan. :)
Saya dihadiahi pelukan, yang tetap hangat sedari dulu. Sedih.

Yang penting sekarang, di depan mata saya disiapkan oleh Tuhan seorang pria yang -astungkara- adalah lelaki terbaik dalam hidup saya, kedua setelah Bapak. Semoga saya diberi kemampuan juga untuk jadi istri yang berbakti dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anak kelak. Semoga segala ujian yang mungkin akan Tuhan berikan, bisa kami lalui bersama untuk memperkuat apa yang terjalin di antara kami.
Semoga kami selalu seperti dulu, sejak dua tahun yang lalu, bersahabat dan memenuhi hari dengan cerita serta tawa

Semoga.












Minggu, 25 Agustus 2013

Available on Sunday Only

Haaaaaah, pupus sudah harapan mengunjungi butiknya mbak MonicaWeber hari ini. Ternyata butiknya tutup kalo minggu, karena mbak Mon gereja.  Aku tau Monica Weber ini dari mbak Adista, yang dulu sekantor sama aku. Awalnya keder juga sihhh, soalnya nama Monica Weber di Bali udah sliwar sliwer bahkan sampe luar negeri. Nggak mungkin murah.

Ternyata, untuk harga sewanya masih standar dan yang paling penting adalah orangnya ternyata ramah bangeeeeeeet. Males banget nggak sih kadang ada desainer yang baru naik daun dikit udah angkat dagu tinggi-tinggi. Saya sampe dibuatin jadwal khusus untuk ketemuan di butik Mbak Mon, yaitu sabtu depan, tanggal 31 Agustus.

Well it means saya harus pasang plang di jidat  saya :
"Available on Sunday Only"

Semoga berjodoh ya sama kebayanya mbak Mon.
Kiss kiss...

Sabtu, 24 Agustus 2013

Ha Min Hahahahahahahahaha

Kenapa Ha Min Hahahahahaha? Mengutip status BBM nya Wida yang tanggal nikahnya sama dengan saya. Hihihihihihi.
Waktunya terus ngeroll, nih..
Nggak berasa udah sampe di penghujung Agustus. Aaaaaaaakkk, itu artinya??? Agustus akan berakhir.

Oke, sesuai postingan blog terakhir, saya lanjut ngereview hasil foto prewed. Hihihihi. Saya suka bangetttt. Dan Mas juga gitu, dia suka banget sama tone editan fotografernya. Rencananya saya akan majang 5 buah foto di resepsi nanti. Satu Foto adat bali, empatnya casual. Ini diantaranya :
i really heart this photo. Hahahahaha.

Basicly saya suka angelnya. Romantisnya dapet. Tapi sayang, kaki saya ketutup. But its ok, jadi kesannya rada candid


Ini adalah konsep levitasi yang akhirnya terwujud. Diantara belasan frame levitasi, ini yang paling dapet. Mama saya ngakak-ngakak liat foto ini

Ada satu foto lagi dengan pose seperti ini tapi kita saling tatap dan sebenernya lebih suka yang itu. Tapi biar deh ada satu yang kita noleh kamera, hihihi

Daaaaaaan.... ini yang kostum bali modifikasinya

Thanks to Gatayana Photography, Bli Antha dan Komang untuk foto-foto spesialnya plus Dewi, si make up artist yang masih sepupu saya. Beneran puas sama make up balinya.

Untuk undangan udah naik cetak dong... Dan pertengahan September bisa kelar. Saya akhirnya pesan di Mia Wedding Jogja , untuk jenis undangan saya pesan 250 buah dan single hard cover dengan board gold sparkling di belakang, bahannya import bo. Jadi agak-agak juga harganya, hahahaha. Tapi untuk pemesanan jumlah kecil, disini termasuk murah dibanding tempat lain.
Kalo souvenir sudah dari jaman dahulu kala mendem di kost-nya Mas. Belum dikirim-kirim juga sama dia ke Bali. Tapi ya udahlah, toh resepsinya masih sebulan setelah acara nikah.

Tinggal masalah vendor dekorasi dan catering. Kita belum DP jadi belum bisa testfood, kebetulan juga ada beberapa hal yang saya revisi dari penawaran mereka dan masih nego untuk harga yang lebih bersahabat lagi, hehehehe.

Untuk electone plus wedding singer sudah ngambil di vendor yang sama dengan dekorasi dan catering
Untuk MC sudah minta tolong sama temennya si Rere dan Ruru, sedangakan dokumentasi liputan dari temen 11photography di kantor.
Hand bouquet disaranin temen bikin aja di florist tidak terkenal di dekat kantor. Bahasanya dia, tuh, ya. Tapi jangan salah, katanya sih bunganya bagus-bagus dan seger-seger, cuma tempatnya yang biasa aja.

Hmmm apalagi ya apalagi yaaaa..Oiya untuk kebaya resepsi nihhh.. Maunya hari ini ngecek ke butiknya, tapi berhubung hari ini hari raya tumpek landep, nggak bisa deh jadinya. Rencananya ada 3 tempat yang akan saya survey :
1. Sinta Krisna (deket banget sama rumah)
2. Monica Weber
3. GSmode Bali
Akhirnya saya nggak jadi pake desainernya Riri, yang tadinya mau buatin saya baju. Soalnya kalo bikin nggak keburu waktunya. Harus ukur, fitting, ribet.
Untuk kebaya resepsi kecil di Bajera (daerah asal Mas) sudah di tangan penjahit langganan. Tanggal 4 saya diminta fitting. Yaiyalah, secara tanggal 7 saya udah dipingit, nggak boleh kemana-mana.

Untuk urusan hari H nikahnya, semua udah beres. Untuk salon, minggu lalu udah ke daerah Megati di Tabanan sama calon mama mertua, milih kostum dan aksesorisnya. Catering, pemasangan tenda, dan sesajen astungkara selesai sesuai deadline. Tinggal banyak-banyak berdoa untuk kelancaran acara. Astungakara ya Tuhankuuuuuu, bantulah hambaMu ini.

Jujur ya, butuh fisik yang bener-bener ekstra nih ngurusin ini semua. Pikiran tentunya. Apalagi kalo ada beberapa revisi desain atau penawaran dari vendor. Syukurnya untuk undangan, saya kirim data Senin, Selasa pembuatan desain plus revisi, Rabu revisi kedua, Kamis udah bisa naik cetak.
Capek tapi menyenangkan. Secara saya cuma punya waktu sabtu sama minggu, jadi bisa dibilang dalam seminggu saya nggak ada istirahatnya. Mas juga akhir-akhir ini pulang kantor di atas jam 11 malem. Agak khawatir juga sewaktu-waktu kondisinya drop. Saya kadang nggak tega, di tengah kerjaannya yang sampe malem masih seabrek-abrek pun, dia nyempetin nelponin saya dan becandaan, suaranya nggak pernah kayak orang susah walopun beberapa kali dia curhat tentang kerjaannya yang bejibun, dan yang paling penting, he treats me so welllllll..... bahkan lebih baik dari jaman sahabatan  *lope lope
Once again, i really really proud to have you Mas kuuuuu....
Semoga berkat Tuhan selalu mengalir untuk kita dan orang-orang di sekeliling kita ya Mas... o:)

Anyway, welcome to H min Hahahahahahahahahahahaha, buat saya dan buat Widayanti Arioka.

Minggu, 11 Agustus 2013

Dalam Satu Minggu Dua Hari

Hoplaaaaaaaaaa.....
Diantara hari libur yang hampir habis, saya kembali bercuap-cuap di blog ini. Liburan yang luaaaaaar biasa tidak seperti liburan. Pastinya karena kesibukan saya menyiapkan keperluan pernikahan.

Akhirnya kita udah fix gedung! Horeeee...
Kita ngambil ballroom di Werdhapura Village and Hotel. Hotel plus bungalow-bungalow gitu deh. Jadi  hotel ini adalah kelolaan Dinas PU. Untuk PNS dapet kortingan lhooo kalo mau nginep disini, dari propinsi manapun.
Tempatnya juga recomended, kok. Parkirnya luas, suasana hotelnya juga enak, rimbun, banyak pohon. Sayangnya lampu jalannya kecil-kecil dan pas malem kita cek kesana, lumayan gelap juga. Penerangan seadanya. Tapi untungnya disupport sama gedungnya yang sip. Harganya juga miring. Untuk sewa ballroom kapasitas 500 orang dan buka kamar 1, nggak sampe 5 juta. Saya kesana sama Mas, Mama dan Bapak saya.

Setelah gedung, urusan printil lainnya menuntut untuk segera diurus. Hunting seserahan dan foto prewed. Oiya untuk undangan setelah tanggal 13 baru saya urus. Libur lebaran soalnya. Rencananya ambil di Kedai Wedding, Jogja.

Kita prewednya hari Kamis, sehari sebelum acara adat ngereraos atau pinangan. Kebetulan fotografer dan make up artisnya dari daerah asal saya, di Mengwi. dan deket rumah pula, dan masih saudara pula, hehehehehe.
Jam setengah 7, mereka udah jemput kita. Jadi di paket prewed ini udah include fotografer dan asisten fotografer, make up artist, sewa baju bali, make up and hair do for casual, sama transportasi. Malemnya itu padahal saya dan mas sampe malem banget nyiapin printil-printil seserahan, sempat ragu bisa bangun pagi. Si Mas otomatis tepar dan ketiduran di sofa ruang tamu saya sampe pagi. Tadinya dia minta bangunin, tapi saya nggak tega karena dia bener bener keliatan capek dan tidurnya lelap banget.
Untuk lokasi pertama, yaitu Danau Tamblingan. Kita sewa perahu di sana seharga seratus ribu. Numpang make up nya di salah satu warung yang ada di situ, yang ada bale-balenya. Nah, ada sedikit cerita, nih. Di warung yang kita tumpangi itu, ibu-ibu pemiliknya agak ngomel nggak enak karena kita sewa perahu di depan, di loket karcis sebelum masuk. Ternyata warung ini juga nyediain perahu plus ruangan untuk make up. Ya, wong kita nggak tau. Fotografer kita akhirnya keliling nyari spot dan sempat ngobrol sama salah satu pemilik warung lain di sana, dan ternyata pemilik warung yang kita tumpangi itu emang sering bermasalah sama pengunjung karena dia berdiri independen, nggak dibawah pengelola kawasan wisata danau tamblingan. Ya sudahlah semoga cepat ditunjukkan jalan yang benar.
Disana kita prewed dengan kostum bali modifikasi. Aduh, fotonya di tab saya, dan saya masih bermasalah sama kabel data saya. Jadi ntar aja, yaaaa, sharenya. Basicly, kita puas sama baju dan riasannya. Untuk pose-pose juga kita untungnya nggak mengalami kesulitan. Yang ribet itu pas ngibar-ngibarin selendang panjang saya, harus ada angin dan kibarnya mesti dramatis, gitu.
Untuk konsep casualnya, kita lanjut di Kebun Raya Bali, kawasan wisata Bedugul. Sebenernya untuk prewed di sana ada charge lima ratus ribu. Cuma berhubung kita kostumnya kesana biasa aja dan mobil nggak diperiksa, jadi aman. Ngeri juga pas diliatin sama security di depan. Secara di bagasi belakang penuh peralatan, baju dan berbagai jenis perlengkapan yang berbau fotografi.
Maunya sih di daerah yang ada cemara-cemaranya, ternyata sepanjangan jalan penuuuuuh banget sama mobil yang parkir plus piknik disana. Akhirnya kita masuk dan masuk ke dalem, ke arah hutan-hutan yang eksotis banget. Udah jalur exit kebun raya sebenernya. Tapi untungnya disana sepi, cuma beberapa mobil yang lalu lalang.
Untuk casual kita pake 2 kostum dan konsep levitasi terwujuuuuuud. Horeeee (lagi). Tapi saya belom liat hasilnya. Si Mas dan saya sampe rempong loncat-loncatan demi levitasi yang oke.
Dan ada satu konsep lagi yaitu panning. Panning ini kita memotret objek yang bergerak. Ini saya dan mas lari-lari ngejar mobil yang lewat, sampe-sampe si Komang, asisten fotografernya minta si pengemudi pelan-pelan aja, hihihihhihii... Sayangnya untuk panning ini muka Mas ketutup. Hahhh, nggak jadi deh.

Finally,Jumat 9 Agustus 2013, digelar prosesi ngereraos, nyedek, atau nyuaka atau pinangan. Hahahahaha, lucu deh, di Bali ini nggak ada istilah lamaran. Adanya "diminta". Habis diminta, biasanya si cewek langsung dibawa ke rumah si cowok. Artinya si cewek sudah menjadi tanggung jawab si cowok sepenuhnya. Cuma saya nggak begitu. Untuk dibawa ke rumah si cowok perlu saksi desa dari kedua belah pihak. Malam itu dari pihak berdua memang nggak ada saksi desa. Jadi nanti pas acara nikahnya, saya langsung diminta, pamit di pura keluarga dan prosesi layaknya akad nikah di rumah si cowok. Ribet ya kedengerannya? Namanya juga adat, ya, bo! Di acara itu yang hadir adalah pihak keluarga besar cowok dan tetangga plus keluarga besar cewek. Ternyata ruameeee banget keluarga Mas yang ikutan. Om tante sampe sepupu dan iparnya.
Di acara itu sayangnya full bahasa bali halus yang saya dan Mas nggak ngerti. Maklum,Bali modifikasi :p
Sampe ada pertanyaan yang diajukan ke saya pake bahasa bali saya bengong dan diketawain sama semua. Ya saya emang nggak ngerti apa yang diomongin. Hahahahaha.
Nah pertanyaan kedua baru deh saya dan Mas nangkep. Pertanyaannya itu kira-kira dalam bahasa Indonesia, "Putu sudah yakin dengan pilihannya". Saya jawab dengan tegas, "Iya,saya yakin sama Komang"  Mas juga ditanya seperti itu. Deg-deg seeeerrrrr..
Dan acara terakhir adalah tukar cincin dan penyerahan barang-barang hantaran.
Terus makan-makan deeeeeh. Senangnyaaaaa malem itu, jari manis kanan saya udah ada yang ngiket, hihihihihi. Perasaan saya membuncah bahagia. Semoga lancar sampe hari H yang tinggal hitungan minggu ya Mas-ku sayang......
 
Dan sabtunya kita langsung cari vendor dekorasi yang sekaligus melayani jasa catering, rias penganten dan cetak undangan. Saya kirain paketnya mahal secara komplit banget paketnya. Ternyata under 50 jeti. Kalo mau ce silahkan nih di http://www.saranadewatabali.com
Tinggal DP dan survey gedung sama pihak dekor untuk nentuin jenis dekorasinya.
 
Pfiuuuuuuuuuhhhh..... Dalam seminggu saya dan Mas bener-bener kayak orang sibuk sedunia. Setiap harinya saya dan Mas dari pagi sampe malem, tengah malem malah, ngurusin nikahan.
Senengnya adalah Mas orang yang bisa diajak rempong-rempongan begini.Kadang ada cowok yang ogah-ogahan kan kalo untuk urusan yan ribet-ribet. Nggak sedetikpun dia biarin saya ngurusin sendiri. Bener-bener pas saya tidur sama mandi aja yang dia nggak nemenin. Love youuuuu pokoknya.
 
Pelajaran berharga lainnya dalam hal ngurusin printilan nikah adalah budget. Wah, ini baru ngerasa menabung itu pentinggggg banget.
Saya dan Mas bukan tipe yang konsumtif, sama-sama nggak suka belanja yang nggak kita perlukan. Bersyukur juga rejeki kita cukup untuk ngebiayain pernikahannya kita, terutama untuk keperluan resepsi. Kalo untuk sesajen adat ya kata orang tua saya itu adalah hutang orang tua kepada anak untuk menikahkan anaknya. Nah, kalo untuk yang lain seperti souvenir, undangan, prewed, dan resepsi saya dan mas sepakat untuk ngandelin diri kita sendiri, kalopun ada kucuran dana dari orang tua, ya nggak perlu banyak.
Jadi berasa aja gitu kerja bertahun-tahun dan abisnya untuk momen sekali seumur hidup yang sakral :)
Soooo,buat kamu-kamu yang akan menikah, nabung deh dari sekarang, supaya nggak bebanin orang tua juga sih. Apalagi kalo kita masih punya adik yang banyak perlu ini itu bersifat materi, seperti kuliah misalnya.
 
Well, nggak sabar nunggu hari H-nya nih.
Tetep mohon doa yaaaa. :)